Kronologi Kabar Tujuh Kontainer Surat Suara Tercoblos Versi Andi Arief

Politik  SABTU, 05 JANUARI 2019 , 10:34:00 WIB

Kronologi Kabar Tujuh Kontainer Surat Suara Tercoblos Versi Andi Arief

Andi Arief/Net

RMOLJogja. Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief menceritakan kronologi dia ikut memposting (di akun Twitter) informasi tujuh kontainer berisi surat suara Pilpres yang sudah tercoblos. Belakangan, kabar tersebut diketahui adalah bohong alias hoax.

Awalnya, pada pukul 17.00 WIB (Kamis, 3/1), Andi Arief dan tim monitoring media dan sosial media mengendus ada beberapa akun Facebook dan Twitter yang mengabarkan ada tujuh juta surat suara di Tanjung Priok, Jakarta Utara yang masuk sudah dicoblos.

Pukul 18.00 WIB di salah satu group WAG (WhatsApp Group) ada member yang punya kredibilitas mengirim rekaman suara soal masuknya kontainer surat suara Tanjung Priok. Bahkan dengan menambahkan kalimat bahwa timnya sedang membongkar kontainer.

Sampai di situ, Andi Arief dan tim monitoring tidak mempercayainya begitu saja. Mereka khawatir hoax.

Namun, pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, informasi tersebut terus berseliweran.

Jelas Andi Arief, sebagai Wasekjend Demokrat yang punya kepentingan dengan pemilu yang jurdil, dia mengambil tindakan dengan meminta yang berwenang membantu mengecek ke lokasi di Tanjung Priok.

"Agar cepat diatasi apakah ini benar terjadi atau hoax. Sekali lagi mengecek ke lokasi. Bakan duduk dan angkat telepon saja untuk mengecek peristiwa," katanya.

"Akhirnya kami dengar KPU dan Bawaslu ke Priok dan menyatakan itu hoax," lanjut Andi Arief menambahkan.

Pada Jumat (4/11) kemarin, akun Twitter Andi Arief ramai dikecam dan dianggap menyebarkan hoax.

Rumah kediaman Andi Arief yang sudah lama dijual di Lampung juga digeruduk Tim Cyber Crime Polda Lampung untuk mencari keberadaannya. Jelas Andi Arief, walau Mabes Polri membantah namun fakta itu nyata dan ada terjadi.

Secara resmi dia mengaku sudah melaporkan ke beberapa pengurus Demokrat atas hasil monitoring ini. Arahannya, menunggu penyelidikan Kepolisian. Jika dibutuhkan keterangan wajib hadir.

Mencermati kronologi dan fakta yang ada, Andi Arief menyampaikan tiga kesimpulan. Pertama, dia dan tim monitoring setelah dinyatakan peristiwa Priok tidak terjadi merasa bersyukur. Kedua, kalau polisi meminta keterangannya maka penjelasan ini akan mendapatkan petunjuk kemungkinan siapa pelaku utamanya jika akan diselidiki.

Ketiga, melihat sampai saat ini kepolisian yang sudah menggeruduk rumah dia yang lama tanpa memberikan surat agar dia memberikan keterangan, Andi Arief menyimpulkan bahwa kepolisian lebih memilih menargetnya untuk dianggap pelaku hoax ketimbang bersama-sama membuka kasus ini secara terang benderang, profesional dan jauh dari tekanan TKN Jokowi-Ma'ruf dan organ-organ pendukung Jokowi. [RMOL]

Komentar Pembaca
4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Bertemu Di Acara Pembekalan Relawan

Bertemu Di Acara Pembekalan Relawan

JUM'AT, 23 NOVEMBER 2018 , 05:23:00

Jabat Tangan Dari Presiden

Jabat Tangan Dari Presiden

KAMIS, 22 NOVEMBER 2018 , 15:38:00

Pimpin Ratas Di Istana Bogor

Pimpin Ratas Di Istana Bogor

RABU, 21 NOVEMBER 2018 , 13:51:00

Defisit BPS

Defisit BPS

Opini16 Januari 2019 12:56

Amien Wanti-Wanti KPU Jangan Bersikap Sok Kuasa
Candi Jago

Candi Jago

Opini13 Januari 2019 10:53

Daniel Di Balik Byton

Daniel Di Balik Byton

Opini12 Januari 2019 10:21

Ade Armando Dan Andrian Uki Dilaporkan Ke Polisi