Genosida Rwanda

Opini  JUM'AT, 12 OKTOBER 2018 , 07:19:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Genosida Rwanda

Jaya Suprana/Net

PADA tanggal 6 April 1994, sebuah pesawat terbang yang membawa presiden Rwanda, Juvenal Hanyarimana dan presiden Burundi, Cyprien Ntaryamira tertembak jatuh di ibukota Rwanda, Kagali.

Gempa Kemanusiaan

Keesokan harinya mulai merajalelalah suatu malapetaka angkara murka gempa kemanusiaan yang lakukan oleh manusia terhadap sesama manusia yang kemudian dicatat dalam sejarah sebagai Genosida Rwanda yang merupakan pembantaian massal terhadap suku Tutsi di Rwanda yang disutradarai  pemerintah Rwanda yang dikuasai oleh suku Hutu.

Pada hakikatnya suku Tutsi dan Hutu merupakan sesama warga Rwanda seperti halnya suku Sunda dan Jawa sesama warga Indonesia. Meski sesama warga Rwanda yang dalam hal penampilan tidak bisa dibedakan akibat sesama etnis Afrika.

Namun sejak 1990 telah terjadi perang saudara antara suku Tutsi melawan suku Hutu akibat kesenjangan politik, sosial dan ekonomi antara kedua suku sesama warga Rwanda yang seharusnya hidup bersama secara damai.

Alih-alih bersama membangun negeri, malah suku Tutsi dan Hutu memecah-belah bahkan menghancurkan Rwanda dengan melakukan angkara murka perang saudara sejak 1990 yang memuncak menjadi Genosida Rwanda selama 100 hari sejak 7 April sampai pertengahan Juli 1994 yang menelan korban  sekitar 500.000 sampai 1juta manusia diperkirakan tewas terdiri dari 70 persen warga Rwanda suku Tutsi dan 30 persen suku pigmi Batwa terbunuh.

Diperkirakan sekitar 2.000.000 warga Rwanda kehilangan tempat bermukim sehingga terpaksa mengungsi.

Sejarah

Genosida Rwanda tercatat dengan lumuran darah di lembaran hitam sejarah peradaban umat manusia bersama dengan Genosida Yahudi yang dilakukan oleh Adolf Hitler. Genosida Armenia yang dilakukan oleh kekaisaran Ottoman serta Genosida Bosnia yang dilakukan oleh rezim Serbia.

Seyogianya kita belajar dari sejarah agar jangan sampai memecah-belah bahkan menghancur-leburkan bangsa sendiri seperti yang telah terjadi di Rwanda .

Seyogianya dengan bekal semangat Bhinneka Tunggal Ika dan falsafah Pancasila, kita bersatu-padu menempuh perjalanan panjang sarat kendala kerikil tajam serta kemelut deru campur debu demi mengejawantahkan cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur yang hidup bersama di negeri panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tenteram karta raharja. MERDEKA !

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Komentar Pembaca
Lepas Dari Energi Marah Lingkungan

Lepas Dari Energi Marah Lingkungan

RABU, 17 OKTOBER 2018

Dari Kampung Laut Ke Sekolah Dokter

Dari Kampung Laut Ke Sekolah Dokter

RABU, 17 OKTOBER 2018

Tesla Sepeninggal Wajahnya

Tesla Sepeninggal Wajahnya

SELASA, 16 OKTOBER 2018

Anwar Sekarang Atau Nanti-Nanti

Anwar Sekarang Atau Nanti-Nanti

SENIN, 15 OKTOBER 2018

Menghormati Miftahul Jannah

Menghormati Miftahul Jannah

SABTU, 13 OKTOBER 2018

Pra-Wedding Di Sudut-Sudut Sumba

Pra-Wedding Di Sudut-Sudut Sumba

SABTU, 13 OKTOBER 2018

Jokowi Ziarah di Korea Selatan

Jokowi Ziarah di Korea Selatan

SENIN, 10 SEPTEMBER 2018 , 15:17:00

Kesepakatan Baru Freeport

Kesepakatan Baru Freeport

JUM'AT, 28 SEPTEMBER 2018 , 13:23:00

Tausyiah Ustadz Abdul Somad Di Syukuran HUT MPR

Tausyiah Ustadz Abdul Somad Di Syukuran HUT MPR

KAMIS, 30 AGUSTUS 2018 , 14:27:00