JK Promosikan Program EBT Ke Bank Dunia

Politik  KAMIS, 11 OKTOBER 2018 , 08:05:00 WIB

JK Promosikan Program EBT Ke Bank Dunia

Jusuf Kalla bersama Kristalina Georgieva/Net

RMOLJogja. Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) merupakan upaya Indonesia mendukung penyelamatan lingkungan.

Begitu kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat jumpa pers dengan Chief Executive Officer Bank Dunia Kristalina Georgieva di sela kegiatan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali, Rabu (10/10).

Langkah Indonesia terkait pemanfaatan EBT mendapat dukungan positif dari Bank Dunia.

"Kita utamakan renewable energy," kata JK.

Wapres merespons adanya sikap sebagian organisasi nonpemerintah (NGO) yang mengaitkan upaya mengoptimalkan manfaat EBT ini dengan masalah lingkungan.

"Yang mengganggu lingkungan kan jelas. yang mana. Oleh karena itu kita utamakan renewable energy," ujar JK.

Pemerintah melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) telah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen hingga tahun 2025 mendatang.

Langkah ini akan semakin mengurangi penggunaan energi fosil dan pada gilirannya akan menghemat devisa negara.

Sejumlah pembangkit dibangun dengan memanfaatkan EBT itu, antara lain, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, Sumatera Utara, yang sedang dalam proses pembangunan, serta PLTA Poso dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sindereng Rappang (Sidrap) di Sulawesi Selatan.

Proyek-proyek tersebut juga merupakan bagian dari Infrastruktur Strategis Ketenagalistrikan Nasional sebagai bagian integral dari Program 35.000 Mega Watt (MW) Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi ke luar Pulau Jawa.

Langkah Indonesia dalam pemanfaatan EBT ini ditanggapi positif oleh Bank Dunia. Kristalina Georgieva menyatakan apresiasinya, dan menilai hal itu dinilai langkah nyata Indonesia dalam, upaya menekan pertumbuhan gas karbon.

"Itu hal yang Indonesia dapat banggakan. Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai 23 persen energi terbarukan pada tahun 2025. Kami percaya indonesia akan memenuhi komitmen itu," kata Kristalina Georgieva.

Terkait dengan bencana-bencana yang terjadi di dunia saat ini, dan juga di Indonesia, hal itu dinilai terkait erat dengan perubahan iklim.

Kristalina menekankan, saat ini dunia harus mengakui bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi, dan sudah terjadi.

"Diperlukan langkah mitigasi yang lebih keras lagi untuk menekan pertumbuhan gas karbon. Pengalaman yang sedang kita bahas di Palu, ini ada peringatan bahwa kita harus menemukan keberanian dalam diri kita untuk menangani bencana ke level yang lebih tinggi," ujarnya. [RMOL]


Komentar Pembaca
4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Koran Dinding Pyongyang

Koran Dinding Pyongyang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 07:48:00

Huntara di Lombok

Huntara di Lombok

KAMIS, 25 OKTOBER 2018 , 08:22:00

Serpihan Dari Pesawat Lion Air JT 610

Serpihan Dari Pesawat Lion Air JT 610

SENIN, 29 OKTOBER 2018 , 10:32:00