Catatan Harian Relawan Palu-Donggala

Opini  RABU, 10 OKTOBER 2018 , 08:48:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Catatan Harian Relawan Palu-Donggala

Penanganan gempa Palu/Net

SEBAGAI anggota laskar relawan kemanusiaan Ciliwung Merdeka yang berangkat ke wilayah gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, dr. Frederica Ian Liana Sumardi membuat catatan harian yang lewat whatsapp rutin dilaporkan kepada pejuang kemanusiaan, Sandyawan Sumardi yang saya petik ke dalam naskah yang dimuat RMOL ini sebagai berikut:

4 Oktober


Sementara daerah yang kami tuju (Pantai Barat) baru terbuka aksesnya. Jadi rencana sementara, kami akan datang kesana untuk mapping dan identifikasi kebutuhan sambil membawa bantuan darurat saja. Saya sudah mengajukan daftar obat-obatan yang kira-kira diperlukan sementara. Obat-obatannya sementara tersebut akan dibeli oleh Mbak Lian di Poso untuk dikirim ke Pantai Barat (Kab. Donggala) malam ini, menyusul tim JRK yg sore ini berjalan kesana. Sekedar info, tadi saya sempat berkomunikasi dengan teman yang dikirim dari Fakultas Kedokteran UI. Mereka bergabung dengan tim medis SKK Migas-KKKS dan diarahkan ke Puskesmas Biromaru (Kabupaten Sigi), karena menurut pemetaan dinkes setempat, obat-obatan di puskesmasnya masih cukup. Hanya butuh bantuan tim medisnya. Jadi nanti begitu sampai di Pantai Barat, akan kami evaluasi lagi

Saya sudah buka komunikasi juga dengan beberapa teman yang dikirim ke palu dari kelompok lain. Siapa tau ada yang bisa membantu soal logistik dan obat. Kemungkinan itu sudah didiskusikan juga dengan Mbak Lian. Sementara yang kita tau menurut teman di posko poso itu pantai barat kabupaten donggala paling parah karena akses kesana baru terbuka.

5 Oktober

Ini contoh jalanan yang cuma bisa dilewati motor akibat longsor. Ada 11 korban jiwa tertimbun dan sampai siang tadi masih berusaha dievakuasi. Kalo mau lewat jalan itu juga dimintakan biaya 20 ribu oleh warga untuk sumbangan karena jalanan tersebut katanya warga sendiri yang bersihkan sampai motor bisa lewat

6 Oktober


Pukul 08.15 saya dan relawan setempat (Ade) datang ke Puskesmas Toaya, sampai di sana petugas belum ada. Kami menunggu petugas datang, sementara sudah ada beberapa warga yang datang untuk berobat. Pukul 09.15 petugas yang memegang kunci gudang obat sudah datang, kemudian petugas dan warga yang sudah mengantri meminta saya membuka pelayanan kesehatan di puskesmas. Sekitar pukul 09.45, tim relawan medis dari dinas kesehatan provinsi datang ke puskesmas, kemudian kami berdiskusi. Tim dari dinkes (dr. Uki) meminta saya tetap melayani pasien di puskesmas, sedangkan tim dinkes akan membuka pelayanan di Posko Dusun Somari. Pkl 12.30, tim dinkes kembali ke Puskesmas Toaya.

Hasil pelayanan kesehatan di posko Somari ada 168 pasien terlayani dan 3 pasien dikunjungi di rumah (luka bakar dan patah tulang). Saya berkoordinasi dengan dr. Uki dan menyampaikan bahwa masih banyak titik-titik pengungsian di kecamatan sindue yang belum tersentuh bantuan medis. Dr. Uki bersedia membantu menghubungkan dengan posko tim medis di Palu berkaitan dengan kebutuhan warga di Kecamatan Sindue dan sekitarnya. Pkl 14.40 saya menyelesaikan pelayanan kesehatan di Puskesmas Toaya, ada 80 pasien terlayani di puskesmas. Sekitar 15 pasien dengan luka yang sudah terinfeksi dan 1 pasien anak yang harus diinfus dan diobservasi di puskesmas selama 3 jam karena diare, muntah dan dehidrasi.

Pukul 16.00 saya menelpon dr. Uki dan menyampaikan laporan dari warga bahwa ada 6 titik pengungsian di sekitar kecamatan Sindue yang diketahui belum mendapat bantuan medis. Beliau belum bisa memastikan mengenai tim yang akan datang ke Puskesmas Toaya, tapi beliau akan membantu menyampaikan pada rapat koordinasi nanti malam di posko Palu. Pukul 16.10 saya kembali mendapat informasi dari warga bahwa masih ada 3 titik pengungsian lagi (jadi total 9 titik) di sekitar Kecamatan Sindue ini yang belum tersentuh bantuan medis. Pukul 16.20 saya kembali ke puskesmas untuk melihat pasien anak yang diobservasi. Keadaan sudah mulai membaik, pasien sudah bangun dan bisa minum. Setelah infus habis sesuai instruksi, saya memperbolehkan pasien pulang dan dirawat di rumah. 

7 Oktober

Setelah mendapat sinyal internet kemarin sore, saya menyampaikan ke grup WA Cluster Medis Relawan Palu & Donggala bahwa di Kecamatan Sindue masih ada setidaknya 9 titik pengungsian yang belum tersentuh bantuan medis. Malam harinya tim dari OBI (Obor Berkat Indonesia) menghubungi saya dan diputuskan bahwa hari ini (07/10) tim medis OBI akan datang untuk membantu di Kecamatan Sindue. Pkl 09.00, tim OBI datang ke puskesmas Toaya. Ada 3 orang dokter, 3 perawat, 1 koordinator lapangan, 1 guide, dan 1 driver. Tim OBI dan JRK melakukan perkenalan singkat, sambil melakukan pelayanan di puskesmas karena sudah ada pasien yang menunggu di puskesmas. Pukul 10.00, pelayanan di puskesmas kami stop, dilanjutkan dengan pelayanan di titik pengungsian di Dusun II Desa Enu Kec. Sindue. Pelayanan dilakukan sampai pukul 11.30 dengan total 60 pasien yg terlayani. Pukul 11.45 kami pindah ke titik pengungsian selanjutnya di titik pengungsian Dusun III Desa Enu Kec. Sindue. Pelayanan dilakukan sampai pukul 14.30 dengan total 78 pasien yg terlayani. Sementara teman-teman OBI melakukan pelayanan di titik pengungsian, saya turun ke rumah warga di Desa Kavaya bersama dengan supir.

Ada 1 pasien lansia yang patah terbuka lengan kiri disertai luka robek di kepala dan lengan kanan akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Luka di kepala masih terbuka dan mulai infeksi. Saya melakukan penjahitan di tempat, dibantu oleh warga untuk memegang senter dan alat-alat lain. Karena peralatan jahit yang saya bawa terbatas, hanya 1 pasien itu yg bisa saya jahit dan rawat lukanya, sementara warga mengatakan masih banyak pasien lain di Desa Kavaya tersebut yang luka-luka akibat tertimpa reruntuhan. Ada 1 pasien lagi dari desa tersebut yg baru saja tertimpa batako siang ini di rumahnya dan mengalami luka robek di dahi kanan. Pasien tersebut kemudian dibawa ke puskesmas Toaya karena set jahit tersedia di puskesmas dan bisa saya gunakan, walaupun petugas sudah pulang (disimpan di meja luar puskesmas).   

Tim dari OBI menawarkan bantuan tablet Klorin untuk membuat air bersih jadi siap minum (mematikan bakteri E. coli, dsb) dan juga lampu solar cell untuk dibagikan ke warga yang membutuhkan. Mereka punya banyak stok bantuan dari jaringan mereka di luar Indonesia juga. Jika memang kita mau, bisa diambil di posko mereka di Palu. Bagaimana teman-teman? Kalau mau diambil, saya turun ke Palu malam ini, mungkin dengan Mas Ade juga (koordinator posko Toaya).

8 Oktober

Hari ini pelayanan di puskesmas sudah mulai berjalan. Para perawat, petugas farmasi, dan admin sudah masuk. Hanya petugas lab dan dokter tetapnya yang belum ada. Pelayanan di puskesmas saya titipkan ke perawat senior, supaya saya bisa fokus membawa pasien yang perlu dirujuk hari ini. Pukul 07.45 saya mendapat telepon dari dr. Amelia, tim medis dari Tzu Chi. Mereka menyampaikan ingin membantu pelayanan medis di area Kec. Sindue, tapi mungkin baru bisa datang siang ini setelah mereka menyelesaikan pasien di Petobo dan Oboya. Jika tidak siang ini, mungkin besok mereka bisa datang ke Sindue. (Kenyataannya sampai sore hari mereka tidak mengabari. Kemungkinan akan datang besok). Pukul 09.00 saya dipanggil ke puskesmas, pelayanan sudah berjalan. Ada beberapa pasien yang dikonsul oleh perawat. Salah satunya pasien dengan Abses di rahang kiri. Infeksi sudah menjalar dan perlu penanganan lebih lanjut. Setelah rawat luka, pasien kemudian dirujuk ke RS Apung/KRI Soeharso.

Saya ikut merujuk untuk mencari informasi mengenai ketersediaan tenaga ahli dan fasilitas di sana. Menurut dr. Relita, SpOT, KRI Soeharso sudah mulai mendorong RS lokal untuk aktif karena menurut jadwal, KRI Soeharso akan pergi tanggal 12 Oktober 2018 dari Pelabuhan Pantoloan. Pukul 13.00 kembali ke puskesmas Toaya, bertemu dengan dr. Danang dari PBNU. Beliau dan rekan-rekannya baru saja datang ke area pantai darat dan berencana membuka posko medis di sekitar sini. Hari ini mereka sudah membuka pengobatan umum di satu titik pengungsian.

Kami sudah bertukar kontak untuk koordinasi selanjutnya. Pukul 14.30 saya turun ke rumah warga di desa Kavaya bersama 1 perawat dan supir puskes. Kami berusaha menjangkau pasien yang bisa dirujuk ke RS Apung. Dari hasil kunjungan ke lapangan, kami merawat 4 pasien luka-luka dan patah tulang, 1 diantaranya mau dirujuk ke RS Apung.  Pkl 17.30 kami mengantar pasien patah kaki kiri ke RS apung.   
Sudah mulai banyak mobil-mobil bantuan logistik dan medis yang masuk ke daerah pantai barat. Hari ini juga ada dokter-dokter BNN yang datang untuk melakukan pengobatan massal di titik pengungsian. Mungkin ada beberapa titik lain yang sudah tercover juga, tapi tidak berkoordinasi dengan puskesmas, jadi saya belum punya datanya. Jika memang sudah mulai banyak mobile clinic yang masuk untuk melakukan pengobatan massal di titik-titik pengungsian, maka ke depannya mungkin saya akan fokus penjangkauan ke rumah-rumah warga yang luka berat/patah tulang. [***]

Komentar Pembaca
Lepas Dari Energi Marah Lingkungan

Lepas Dari Energi Marah Lingkungan

RABU, 17 OKTOBER 2018

Dari Kampung Laut Ke Sekolah Dokter

Dari Kampung Laut Ke Sekolah Dokter

RABU, 17 OKTOBER 2018

Tesla Sepeninggal Wajahnya

Tesla Sepeninggal Wajahnya

SELASA, 16 OKTOBER 2018

Anwar Sekarang Atau Nanti-Nanti

Anwar Sekarang Atau Nanti-Nanti

SENIN, 15 OKTOBER 2018

Menghormati Miftahul Jannah

Menghormati Miftahul Jannah

SABTU, 13 OKTOBER 2018

Pra-Wedding Di Sudut-Sudut Sumba

Pra-Wedding Di Sudut-Sudut Sumba

SABTU, 13 OKTOBER 2018

Jokowi Ziarah di Korea Selatan

Jokowi Ziarah di Korea Selatan

SENIN, 10 SEPTEMBER 2018 , 15:17:00

Kesepakatan Baru Freeport

Kesepakatan Baru Freeport

JUM'AT, 28 SEPTEMBER 2018 , 13:23:00

Tausyiah Ustadz Abdul Somad Di Syukuran HUT MPR

Tausyiah Ustadz Abdul Somad Di Syukuran HUT MPR

KAMIS, 30 AGUSTUS 2018 , 14:27:00